Pesona Lubang Mbah Soero di Sawahlunto

22

HORASNEWS.COM-Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatra Barat menyimpan ragam objek wisata menarik. Salah satunya objek wisata history atau sejarah, Museum Lubang Mbah Soero. Lubang bekas tambang barubara PT Bukit Asam Tbk ini disulap menjadi objek wisata unggulan kota arang ini.

Lokasi Museum Lubang Mbah Soero ini yang terletak di pusat kota Sawahlunto, sekitar 130 kilometer dari Kota Padang. Lubang Mbak Soero baru dibuka untuk umum 23 April 2008.  Terowongan bekas penambangan batu bara ini dijadikan museum. Panjang terowongan ini ratusan meter, tapi baru 186 meter yang dipugar.

Lobang Tambang Mbah Soero dulunya dinamakan Lubang Soegar. Lubang ini merupakan lubang pertama di kawasan Soegar yang dibuka oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898.

Pada lubang ini terdapat kandungan batubara yang paling bagus (kalori 7000) dibandingkan dengan daerah-daerah lain, seperti Sungai Durian, Sigalut, Parambahan, dan Tanah Hitam. Hal ini disebabkan karena kawasan Soegar terletak di lapisan patahan paling bawah dari permukaan Bumi.

Dasar Lubang Tambang Mbah Soero terlihat rapi dengan penerangan yang cukup baik. Udara segar dipompa ke dalam lubang dari permukaan tanah dan dialirkan melalui pipa-pipa, yang membuat udara di dasar Lubang Tambang Mbah Soero tetap terasa segar. Pengeras suara pun telah dipasang jika sewaktu-waktu diperlukan.

Salah satu lubang di dasar Lubang Tambang Mbah Soero masih ditutup dengan pagar besi. Di beberapa tempat, atap lorong dilapis pelindung untuk melindungi pengunjung dari tetesan air yang masih merembes turun dari langit-langit.

Pengunjung bisa masuk ke dalamnya dan merasakan suasana bekas lorong penambangan batu bara. Di dindingnya masih terdapat batu bara berkualitas paling bagus dengan kandungan 7 ribu kalori. Selain Lubang Mbah Suro ada juga Museum Kereta Api yang menyimpan sejarah kereta api di Sawahlunto.

Di museum ini juga terdapat lokomotif uap seri E 1060 yang diberi nama Mak Itam salah satu lokomotif uap yang ada di Indonesia. Kereta api lokouap jenis ini adalah transportasi utama ekspor batu bara dari Sawahlunto melewati Pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) di Padang sepanjang 155,5 km sejak dibangun 1894.

Selanjutnya lubang ini ditutup pada tahun 1920-an karena adanya perembesan air dari Batang Lunto dan kadar gas metana yang terus meningkat. Kemudian pada tahun 2007 sesuai dengan Visi dan Misi Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya maka berbagai objek bekas tambang kembali dibenahi.

Untuk membuka lubang ini Belanda mendatangkan buruh paksa dari berbagai penjara di Nusantara seperti Medan, Jawa, Sulawesi, dan Padang. Mereka dibawa dengan kapal melalui Emma Haven (Pelabuhan Teluk Bayur) dan selanjutnya menggunakan transportasi kereta api dari pelabuhan menuju Sawahlunto.

Sesampainya buruh ini di Sawahlunto, mereka dikirim ke penjara orang rantai yang khusus dibuat oleh Belanda untuk para buruh paksa (orang rantai). Mereka bekerja membuka lobang tambang Soegar dengan kaki yang dirantai, makanan seadanya, dan upah kecil. Namun tenaga mereka dikuras untuk menyelesaikan konstruksi lubang tambang.

Lebar lubang tambang ini dua meter dengan ketinggian dua meter dan masuk ke dalam tanah pada hingga kedalaman 20 meter. Lubang ini terkenal sebagai Lubang Mbah Soero karena diawasi mandor dari Jawa bernama Soerono.

Menurut Wakil Wali Kota Sawahlunto Zohirin Sayuti, Soerono adalah mandur atau pengawas yang paling kejam dan sadis waktu itu. Para pekerja yang malas-malasan langsung dipukul, meski kondisi kaki dirantai.

“Soerono mandur tambang waktu itu yang paling ditakuti para pekerja tambang, karena memiliki ilmu kebatinan,” ujar Wakil Wali Kota Sawahlunto.

Perjuangan panjang sejak tahun 2012 lalu akhirnya berbuah manis. Kota yang dikenal sebagai situs tambang batubara tertua di Asia Tenggara yang terletak di lembah sempit Bukit Barisan ini akhirnya dikenal dunia.

Tambang batubara Ombilin Sawahlunto resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Penetapan diumumkan pada gelaran pertemuan Komite Warisan Dunia di Azerbaijan.

UNESCO menilai penambangan batubara yang telah dilakukan sejak abad ke-19 telah secara signifikan mengubah lanskap kota ini menjadi situs industri. Selain Ombilin, Indonesia miliki 8 situs warisan dunia. (red)