Mangulame, Tradisi Masyarakat Tapanuli Jelang Lebaran

85

HORASNEWS.COM-Mangulame (buat dodol) sudah tradisi bagi masyarakat Tapanuli, Sumatra Utara jika hendak lebaran. Ulame ini disuguhkan saat lebaran atau tamu-tamu yang datang ke rumah untuk bersilaturrahmi. Tradisi ini masih bertahan eksis di tanah Sumatra Utara.

Misalnya, warga di Desa Huta Godang, Kecamatan Sungai Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatra Utara, masih membuat ulame (dodol) menjelang lebaran tahun 2020 ini. Proses pembuatan dodol ini cukup lama, malah bisa memakan waktu satu hari.

Bahan ulame ini, terdiri dari tepung beras yang sudah ditumbuk, gula, santa kelapa. Bahan ini diaduk dan dimasak di atas tungku kuali besar. Api bahan bakar ulame ini lebih enak terbuat dari kayu bukan dari kompor.

Proses mengacau atau mengaduk ulame ini biasanya dilakukan dua orang berlainan arah. Agar lebih lejat dan nikmat ulame ini, harus berjam-jam memasaknya di atas bara api.

“Biasanya memakan waktu sampai lima dan tujuh jam,” ujar Ratna, salah seorang pembuat ulame.

Setelah masak, ulame ini dimasukkan ke sumpit yang sudah dijalin dari daun bayuon. Para pemilik membuat sumpit ini bervariasi, ada ukuran seperempat kilogram hingga dua kilogram. “Tergantung keinginan kita,” kata Ratna.

Tradisi mangulame di tanah Tapanuli sudah turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Ulame ini biasanya akan disuguhkan di saat bersilaturrahmi di hari hari raya.

“Dulu ini makanan khas lebaran. Dulu belum ada kue atau roti,” kata Raja Mombang, tokoh adat di Labuhanbatu Selatan.

Meski jaman sudah berubah, namun mengulame masih eksis di Labusel. Biasanya, setelah ulame ada wajit atau nasi manis yang dibuat dari pulut. Wajit dan ulame ini makanan ringan khas lebaran.(red)