Kasus Stunting di Mentawai Masih Tinggi, Donator Diminta Membantu

27

HORASNEWS.COM-Kasus stunting (pertumbuhan tinggi) anak di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat masih tinggi. Kepala Dinas Kesehatan Mentawai, Lahmuddin Siregar meminta para donator untuk berperan aktif dalam kesehatan anak di Mentawai.

“Saat ini kasus stunting di Kabupaten Kepulauan Mentawai mencapai 31 persen dari kelahiran anak,” ujar Kadis Kesehatan Kepulauan Mentawai, Sumbar, Lahmuddin Siregar,  di Padang, Senin (29/7/2019).

Tingginya kasus ini, menurut Lahmuddin Siregar, disebabkan berbagai factor. Mulai dari kekurang gizi pada anak hingga ketersediaan MCK belum merata di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kebiasaan buang jamban oleh masyarakat sangat semberangan (tidak memiliki MCK) juga menjadi tidak sehat. Anak yang tidak sehat berdampak pada pekembangan tinggi anak.

Lahmuddin meminta kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pengusaha lainnya bisa memberikan ketersediaan MCK di Mentawai. “Kita juga meminta peran para BUMN dan donator turut membantu masyarakat di Mentawai, terutama menyediakan MCK warga,” harap Lahmuddin.

Ketua PKK Mentawai, Rosmaida Yudas, juga prihatin dengan tingginya kasus stunting di Mentawai. Dia akan berperan serta untuk ikut terlibat memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada masyarakat.

“Saya meminta kepada PKK di Kabupaten hingga ke Desa untuk berperan terhadap masyarakat yang kategori stunting,” katanya.

Kebanyakan orangtua hanya melihat perkembangan dan pertumbuhan anaknya dari berat badan saja. Jika berat badan cukup atau melihat pipi anaknya sudah sedikit tembam, anak tersebut dianggap sudah sehat.

“Padahal, tinggi badan adalah salah satu faktor yang menentukan apakah nutrisi anak sudah baik atau belum. Pertumbuhan tinggi badan yang tidak normal dikenal dengan nama stunting,” ujarnya.

Apa Stunting

Stunting adalah suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umur. Atau mudahnya, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

Banyak yang tidak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah gizi kronis pada pertumbuhan tubuh si kecil. Terlebih lagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat.

Pasalnya, stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Anak masuk ke dalam kategori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD). Penilaian status gizi yang satu ini biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO.

Tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal, merupakan akibat dari kondisi kurang gizi yang telah berlangsung dalam waktu lama. Hal tersebut yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat, sehingga mengakibatkan dirinya tergolong stunting.

Jadi singkatnya, anak dengan tubuh pendek belum tentu serta merta mengalami stunting. Pasalnya, stunting hanya bisa terjadi ketika kurangnya asupan nutrisi harian anak, sehingga memengaruhi perkembangan tinggi badannya.(red)