Istana Bahran Kota Pinang, Riwayat Mu Kini

75

HORASNEWS.COM-Istana Kota Bahran merupakan peninggalan sejarah Kesultanan Kotapinang, sebagai simbol kejayaan peradaban melayu di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Sayang, istana itu dihancurkan pada masa revolusi sosial tahun 1946. Kini, istana tersebut tinggal puing dan tak terurus.

BERDASARKAN data sejarah yang penulis peroleh dari berbagai sumber, Istana Kotapinang atau lebih dikenal dengan Istana Bahran ini pertama kali didirikan oleh Sultan Batara Sinomba yang disebut juga dengan Sultan Batara Guru Gorga Pinayungan pada tahun 1630. Sultan Batara Sinombah merupakan keturunan dari Sultan Minang Kabau Negeri Pagaruyung yang bernama Sultan Alamsyah Syaifuddin. Kesultanan ini awal mulanya bernama Kesultanan Pinang Awan.

Menurut orang-orang tua di sana, nama Kotapinang sendiri diambil dari kata Huta Pinangaon, yang artinya pinang yang mengawan atau pinang yang menjulang sampai ke awan. Pinang itu menurut cerita, tumbuh di depan Istana Kesultanan Kotapinang.

Yang membuat nama Kotapinang lebih melekat, sebab di sepanjang Sungai Barumun dulunya berpagar pinang. Sehingga kala itu Kotapinang juga dikenal dengan pagar pinang.

Awal berdirinya, di daerah Kotapinang hanya dihuni dua suku besar yakni Dasopang dan Tamba yakni 30 Kilometer dari Kotapinang. Bekas kekuasaan kedua suku itu terlihat dari peninggalannya berupa kuburan. Kedua suku inilah yang bertahun-tahun bermukim di kawasan itu.

Selama kedua suku itu berkuasa, timbul percekcokan bahkan sering terjadi perkelahian antara kedua suku, karena masing-masing ingin menguasai daerah itu. Karena perselisihan tak dapat diselesaikan, maka mereka sepakat suapaya kekuasaan diserahkan pada siapa pendatang di daerah itu. Mereka pun sama-sama mencari orang yang mampu memimpin daerah itu.

Dalam usaha mencari siapa yang akan diangkat jadi pemimpin, kala itu kedua suku tersebut menemukan seorang pendatang bernama Batara Guru Pinayungan. Sesuai ikrar, maka Batara Guru Pinayungan diangkatlah menjadi raja dan mengayomi seluruh masyarakat termasuk warga di luar kedua suku besar tersebut.

Batara Guru Pinayungan diyakini berasal dari daerah Pagaruyung. Kedatangannya ke daerah itu juga penuh dengan cerita mistis. Batara Guru Pinayungan diyakini memiliki kesaktian yang tinggi. Dia datang dari Pagaruyung melayang dan terdampar di Kotapinang.

Namun, masa kejayaan Kesultanan Kotapinang ketika dipimpin Raja Tengku Ismail bergelar yang Dipertuan Sakti. Bahkan wilayah kekuasaanya sampai ke perbatasan Selat Malaka. Masa keemasan itu cukup lama bertahan, yakni pada tahun 1873 sampai 1893.

Saat itu Tengku Ismail memiliki lima anak yakni tiga putra dan dua putrid. Putra pertama bernama Tengku Musthafa bergelar yang Dipertuan Makmur Perkasa Alamsyah, putra kedua bernama Tengku Makmoen Alrasyid yang bergelar Tengku Pangeran, putra ketiga Tengku Alangsyarif, sedangkan kedua putrinya Tengku Zubaedah dan yang terakhir Tengku Cantik.

Saat Tengku Ismail wafat, Tengku Musthafa masih berusia 12 tahun. Dia langsung dinobatkan oleh tokoh-tokoh Melayu untuk memangku tampuk kepemimpinan Kesultanan Kotapinang. Meski dalam usia mudanya, Tengku Musthafa mampu memimpin Kesultanan Kotapinang serta mempertahankan teritorialnya.

Namun, revolusi sosial pada tahun 1946 menghancurkan segalanya. Negeri ini mengalami gejolak. Bahkan, Tengku Musthafa bersama anaknya Tengku Besar menjadi korban kebrutalan masyarakat sekitar yang akhirnya terbunuh bersama anaknya. Tidak hanya itu, keluarga besar Kesultanan pun hijrah ke daerah lain menyelamatkan diri. Dalam situasi keamanan tak menentu, Istana Kotapinang dikuasai rakyat, harta dijarah, istana dirusak, sebagian tanah dikuasai masyarakat.

Potensi Tak Tergarap

Sejarah ini merupakan potensi wisata budaya yang dapat menjadi andalan Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Sayangnya, potensi itu tak tergarap, sehingga reruntuhan istana itu hanya menjadi seonggok bangunan tua yang tak menghibur, saat warga melintasinya.

Pada Selasa, 20 November 2018 lalu, penulis bersama pengurus KNPI Labuhanbatu Selatan dan Ketua Ikatan Arsitek Indonwsia (IAI) Sumut Ir Sahlan Jukhri, berkunjung ke istana yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kotapinang, Kecamatan Kotapinang itu. Kondisinya memang sudah sangat memperihatinkan.

Tak banyak yang tersisa dari bangunan tersebut, kecuali sebagian dinding-dindingnya yang masih kokoh berdiri dan pondasi bangunan yang mulai keropos dimakan usia. Sekeliling istana kini dirimbuni alang-alang yang menyemak hingga ke dalam bangunan.

Memang, tak banyak catatan resmi tentang berdirinya Istana Kota Bahran ini. Namun, sejumlah saksi sejarah meyakini, istana tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mustafa XII. Dan dulunya istana itu sangat megah, namun karena dihancurkan, kini kemegahan itu sudah tak tampak lagi. Masa kejayaan itu terkikis, kemewahaan istana Kota Bahran tinggal reruntuhan saja.

Kondisi ini juga diperparah dengan ketidakpedulian Pemkab Labuhanbatu Selatan dalam memanfaatkan potensi wisata budaya yang terkandung di Istana Bahran ini. Istana itu dibiarkan terlantar begitu saja.

Bangunan istana itu sama sekali belum pernah tersentuh renovasi baik dari ahli waris maupun Pemkab Labuhanbatu Selatan. Pada tahun 1990-an, pernah ada rencana pemerintah untuk memugar kembali bangunan itu, namun sampai kini realisasinya tak ada.

Padahal, Istana Kotapinang ini merupakan heritage yang mempunyai nilai sejarah yang cukup tinggi dan dapat dijadikan ikon yang paling bergengsi dan mempunyai daya saing yang tinggi dari daerah lain di Sumatera Utara.

Apabila istana ini direnovasi dengan baik dan dilestarikan sebagai cagar budaya nasional, tentu akan mampu mendatangkan PAD dari sektor pajak hiburan dan merangsang pengunjung dari berbagai penjuru datang untuk melihat langsung serta mengetahui sejarah tentang istana ini. Apalagi arsitektur istana itu sangat unik sehingga mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.

Untuk itu, sebagai wujud kepedulian terhadap peninggalan sejarah ini, Pengurus Besar  Ikatan Keluarga Labuhanbatu Selatan (PB Iklas) akan menggelar seminar atau dialog publik bertajuk “Napak Tilas Kejayaan Istana Kesultanan Bahran Kotapinang”.

Dalam seminar ini, PB Iklas akan menggandeng LIPPSU dan Yayasan Daun Sirih Sumatera Utara. Melalui seminar yang  akan dilaksanakan pada 22 Desember 2018 di Gedung Santun Berkata Bijak Berkarya (SBBK), Jalan Bukit Kotapinang ini, diharapkan ada informasi tentang permasalahan apa yang terjadi, sehingga istana ini tidak dapat direnovasi untuk dilestarikan sebagai cagar budaya di Labuhanbatu Selatan.

Melalui tulisan ini penulis mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat agar dapat berpartisipasi aktif mengikuti seminar “Napak Tilas Kejayaan Istana Kesultanan Bahran Kotapinang” ini dan dapat memberikan masukan-masukan serta informasi aktual sehingga membuahkan solusi yang efektif untuk pemberdayaan istana Bahran Kotapinang ini pada masa yang akan datang.(*)

Oleh: Drs Rivai Nasution MM/ Ketua Umum PB IKLAS