Beginilah Keindahan Mesjid Raya Sumbar dari Atas

151

HORASNEWS.COM-Mesjid Raya Sumatra Barat, terletak di Kota Padang ini menjadi ikon kota. Kawasan Mesjid Raya Sumbar ini menjadi idola wisata baru karena keindahannya.

Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mendesak kontraktor untuk mempercepat finising manara Mesjid Raya Sumatra Barat.

Menara Masjid Raya Sumatera Barat setinggi 85 meter baru akan dibuka untuk umum pada Juli 2019 setelah proses serah terima (PHO) dari pelaksana proyek.

“Kita buka untuk kepentingan pariwisata, karena pemandangan dari atas memang sangat luar biasa, terutama menjelang matahari terbenam,” kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno usai meninjau menara itu, belum lama ini 10/1/2019).

Menurutnya pengelolaan menara itu akan diserahkan sepenuhnya kepada pengurus Masjid Raya Sumbar sebagai salah satu sumber pendapatan untuk membiayai operasional yang tidak sedikit.

Kemungkinan masyarakat atau wisatawan yang ingin naik ke puncak menara harus membayar tiket dengan harga yang ditetapkan kemudian. “Teknisnya silahkan nanti disesuaikan dengan aturan,” katanya.

Secara umum menurut dia pembangunan seluruh bagian Masjid Raya Sumbar termasuk menara dan lengkap taman telah selesai dikerjakan dengan hasil yang cukup baik. Namun kelaikan dan kesesuaian pekerjaan dengan kontrak akan diperiksa kembali oleh tim sebelum serah terima PHO pada Juni 2019.

Masjid Raya Sumbar merupakan salah satu ikon pariwisata baru di Sumbar karena memiliki desain masjid dan lanskap yang “tidak biasa”.

Keunikan dan kemegahan masjid telah menarik banyak wisatawan untuk singgah menunaikan salat serta berfoto di lokasi itu. Bahkan tidak jarang ditemukan pasangan yang melakukan foto praweddin.

Terinspirasi dari tiga simbol: sumber mata air (the springs: unsur alam), bulan sabit, dan Rumah Gadang. Memperlihatkan integrasi sejarah Islam, konteks Padang dan tradisinya. Adat basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Adat Minangkabau diperkuat ajaran Islam seperti kokoh rumah karena sandinya.

Masjid Raya Sumatera Barat adalah masjid terbesar di Sumatera Barat, terletak menghadap Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.

Kompleks Masjid Raya Sumatera Barat menempati area seluas 40.343 meter persegi di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan.

Bangunan utama yakni masjid terdiri dari tiga lantai dengan denah seluas 4.430 meter persegi. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.

Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat memakai rancangan yang dikerjakan oleh arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara pada 2007.

Dari ratusan peserta, 71 desain masuk sebagai nominasi dan diseleksi oleh tim juri yang diketuai oleh sastrawan Wisran Hadi. Konstruksi bangunan dirancang menyikapi kondisi geografis Sumatera Barat yang beberapa kali diguncang gempa berkekuatan besar.

Menurut rancangan, kompleks bangunan akan dilengkapi pelataran, taman, menara, ruang serbaguna, fasilitas komersial, dan bangunan pendukung untuk kegiatan pendidikan.

Masjid Raya Sumatera Barat menampilkan arsitektur modern yang tak identik dengan kubah. Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad.

Ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempat semula setelah renovasi Kakbah, Nabi Muhammad memutuskan meletakkan batu Hajar Aswad di atas selembar kain sehingga dapat diusung bersama oleh perwakilan dari setiap kabilah dengan memegang masing-masing sudut kain.

Mesjid ini sudah dikunjungi sejumlah presiden, diantaranya, Presiden ke enam Susilo Bambang Yudhioyono, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. (Red)