Antoni, Difabel asal Sumbar Raih Gelar Doktor di Australia

529

HORASNEWS.COM-Keterbatasan fisik tidak menghalangi untuk jadi sukses. Ada kemauan, pasti ada jalan dan siapa yang bekerja keras pasti mencapai keberhasilan. Inilah yang dilakukan Antoni Tsaputra, penyandang disabilitas atau difabel warga Kota Padang, Sumatra Barat, sukses meraih gelar doktor di Universitas New South Wales, Sydney, Australia.

Kamis (17/7/2019), Antoni Ssaputra (45 tahun) ini, baru dua minggu berada di rumahnya, di  Komplek Buana Indah II, Blok I/  1/  No 6, Kelurahan Balai Baru, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatra Barat, setelah meraih gelar doktor di Universitas New South Wales, Syidney , Australia.

Anak kedua dari dua bersaudara ini, lahir di kota Bukittinggi, 09 Desember 1976 ini dalam kondisi kecacatan. Sehingga dia bergantung secara fisik pada pengasuhnya untuk perawatan diri.

Keterbatasan fisik yang dialaminya, tidak akan menghambat cita-citanya untuk meraih kesuksesan di jenjang pendidikan. Setelah tamat SMA Negeri 5 Kota Padang, dia melanjutkan pendidikan di Universitas Andalas Padang, tahun 2000, dengan jurusan ganda dalam sastra inggris. Tamat di Unand, dia melanjutkan sebagai asisten dosen.

Pada 2004, dia mulai bekerja untuk pemerintah Kota Padang.  Setelah gempa bumi padang 2009 yang dahsyat, suami dari Yuni Melani ini, dianugerahi Australian Dvelopment Scholarship untuk belajar di Australia dengan paket pengasuh cacat sebagai bagian dari Australia Awards.

Dia menyelesaikan gelar master dalam bidang jurnalisme dan komunikasi massa di Universitas Griffith pada tahun 2011. Disana dia menerima penghargaan griffith untuk keunggulan akademik sebagai penghargaan atas prestasi akademik .

Dia selalu mendorong sesama penyandang cacat untuk membela hak-hak mereka. Diantaranya dalam  program pembangunan Indonesia sampai ke tangan pemerintah daerah untuk menjadikan indonesia tempat yang lebih baik untuk hidup bagi semua orang.

Sekarang Antoni Tsaputra dan istrinya Yuki Melani yang menemaninya sudah kembali ke Kota Padang, Sumatera Barat untuk bekerja dan menyesuaikan diri dengan kehidupan di indonesia yang belum ramah disabilitas.

Bagi pegawai Pemkot padan gini, pendidikan doktor merupakan salah satu pencapaian yang sudah dilaluinya. Namun perjuangan hidupnya masih terus berlanjut. “Memang sejak kecil cita-cita saya menjadi doctor,” katanya.

Antoni menyelesaikan pendidikan di jurusan ilmu sosial, Social Sciences di UNSW dengan disertasinya, Penganggaran Pemerintah yang inklusif terhadap penyandang disabilitas, Disability Inclusive Budgeting.

Dia meneliti bagaimana potensi penganggaran pemerintah di Indonesia yang berpihak kepada penyandang disabilitas bisa membantu merealisasikan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dalam seluruh sektor tidak lagi hanya dalam ranah rehabilitasi sosial.

Kesulitan terbesar yang dialaminya sebagai seorang difabel dibandingkan merkea yang lain dalam studi. Antoni tidak melihat apa yang dijalankannya selama beberapa tahun studi di sydney sebagai kesulitan, namun lebih sebagai tantangan.

Indonesia membutuhkan ilmuwan muda difabel dengan pemikiran kritis dibekali pendidikan kelas dunia seperti antoni, untuk mewujudkan indonesia inklusif and tempat baik untuk dihuni bagi siapa saja. Semoga ini menjadi inspirasi bagi kalanan muda untuk meraih pendidikan lebih tinggi. (red)