Yasinan untuk Korban Bom di Surabaya

HORASNEWS.COM-Ratusan warga menggelar yasinan untuk korban bom di Mako Brimob dan sejumlah lokasi di Surabaya, Jawa Timur. Aksi yasinan ini disela-sela aksi demo menuntut hak lahan yang diduga diserobot salah satu perusahaan kelapa sawit.

Lantunan ayat suci yasin ini digelar di depan kantor Incasi Raya di Jalan Diponegoro Kota Padang, Sumatra Barat, Senin (14/05/2018) pagi.

Massa itu juga menyampaikan doa dukungan kepada Polri yang tengah berkerja keras mengungkap pemboman di Mako Brimob dan sejumlah lokasi Surabaya, Minggu kemarin.

“Kita doakan dan dukung bapak-bapak di kepolisian yang tengah bekerja keras mengungkap tragedi bom di Surabaya, dan kami warga Timpeh mengutuk aksi teror itu,”ujar  Ahmad Kosasi Dt Saiko Dirajo.

Aksi damai warga ini menuntut perusahaan kebun sawit Incasi Raya Group mengembalikan lahan mereka.

Massa merupaka pemilik lahan daru Timpeh Dharmasraya gelar. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, kembalikan lahan kami,”itulah teriakan massa pendemo di halaman kantor Incasi Raya Group, Senin 14/5.

“Kami aksi damai menuntut hak dan punya izin, pak, kami meminta perusahan mengembalikan hak lahan ulayat kami sesuai perjanjian yang sudah berkahir sejak Maret 2013 lalu,”ujar Korlip Aksi Damai Ogut.

Aksi menuntut hak ini dipicu tidak tepat janjinya PT Bina Pratama Sakato Jaya Incasi Raya Group.

“Pada Maret 1993 kami penghulu kaum Melayu Tangah memmbuat perjanjian dengan perusahaan itu,”ujar penghuku kaum Ahmad Kosasih Dt Saiko Dirajo.

Pada perjanjian hamparan lahan ulayat Suku Melayu Tangah terletak di Batang Usau Ketek, Batang Usau Gadang, Batang Lalo, Batang Pagean Balukau Dalam Timpeh saat perjanjian dulu berada di kabupaten Sijunjung, kini setelah dimekarkan berada di Kabupaten Dharmasraya.

“Tanah itu dulu, datuk atas kesepakatan anak kemenakan suku Melayu Tangah menyerahkan ke PT Bina Pratama Sakato Jaya untuk ditanam sawit, dibangun rumah karyaawan dan pabrik, semuanya tanpa ganti rugi dan imbalan apapun,”ujar Ahmad Kosasih diselingi Ogut teriakan takbir dari massa aksi.

Batas waktu perjanjian atau kesepakatan telah habis sesuai perjanjian 5 Maret 2013.

Padahal kata Ogut pihak pemilik ulayat sebelum aksi sudah melakukan cara cara elegan, mulai bernegoisasi mendatangi pimpinan perusahaan.

“Tapi tak ada respon posituf, sehingga melaporkan perusahaan ke Polda Sumbar, namun masih proses hingga sekarang, makanya hari ini kami sepakat melakukan aksi damai,”ujar Ogut.

“Tuntan kami kembalikan tanah ulayat kami beserta segala sesuatu yang berada di atas tanah beserta hasilnya, sesuai perjanjian sejak 6 Maret 2013 adalah hak ulayat kami, karena tidak pernah kaum kami melepaskan tanah ulayat itu,”ujar Ahmad Kosasih.

Humas PT Inkasi Raya Group Okianto mengatakan, klaim 2000 hektar lahan dilakukan warga akan kita uji dengan dokumen-dokumennya. “Kita sekarang menunggu dokumen yang dimiliiki warga,” ujar.(red)

loading...

Tuliskan Komentar Anda