Upah Pengupas Kelapa di Asahan Masih Murah

Upah Pengupas Kelapa di Asahan Masih Murah

HORASNEWS.COM-Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Dr Hj Nurhajizah Marpaung SH MH menyampaikan rasa prihatin atas kondisi kaum ibu yang diberi upah sangat murah untuk hasil mengoncek atau mengupas kulit kelapa di Asahan dan Tanjung Balai. Karena itu, diharapkan semangat perempuan itu menjadi perhatian kepala daerah di Sumut.

“Harusnya kalau dalam undang-undang, mereka ini diberikan haknya yang sesuai. Karena kalau melihat UMR saja, itu sudah Rp2 jutaan. Tetapi ini jauh di bawahnya, ratusan ribu per bulan mereka dapat,” ujar Wagubsu Nurhajizah saat mengunjungi sejumlah lokasi kegiatan mengoncek para ibu di kampung pedalaman Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai, di sela-sela kegiatan Safari Ramadhan di daerah itu, Senin (4/6).

Dari tinjauan Wagubsu di kawasan pinggir laut, dua daerah tersebut, warga dibayar sebesar Rp 250-Rp300 untuk setiap kilogram buah kelapa yang telah dibersihkan kulit arinya untuk diproses menjadi santan bubuk atau santan kemasan. Dalam istilah masyarakat kegiatan dimaksud dinamai dengan aktivitas mengoncek.

“Karena itu kami mengimbau kepada kepala daerah, Bupati/Walikota, tolong diperhatikan nasib warga yang seperti ini. Bagaimana harganya (upahnya) bisa dinaikkan menjadi lebih besar lagi. Tolonglah mereka ini, karena sebagian besar suami mereka juga nelayan yang terkadang dapat kadang tidak. Ada juga yang buruh harian lepas, jadi perempuan ini membantu juga untuk kebutuhan keluarga,” sebut Nurhajizah, yang didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provsu Hj Nurlela dan Kabiro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus.

Menemui para pekerja tersebut, Nurhajizah pun memberikan bantuan berupa sarung tangan untuk digunakan sebagai pelindung agar terhindar dari pisau koncek yang digunakan untuk mengupas kulit (ari) kelapa. “Ini dulu yang bisa kami berikan bantuan, tetap semangat. Satu pesan saya ibu, jangan sampai anak kita tidak sekolah. Sekarang sekolah itu gratis, kalau ada yang tidak sanggup, minta sama Bupati/Walikotanya. Karena saya juga dari keluarga yang hidupnya juga pas-pasan, tetapi harus sekolah hingga sampai seperti ini,” ungkapnya.

Mendapat perhatian seperti itu, kaum ibu yang terus bekerja mengoncek, mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada Wagubsu yang telah datang melihat kondisi mereka. Meskipun dibayar murah, mereka mengaku tidak punya pilihan lain untuk mendapat tambahan penghasilan selain yang diberikan sang suami.

“Memang dipalar (dikerjakan) juga lah ini Bu, apalagi ini puasa, mau beli baju anak. Makanya kami tetap semangat,” sebut Butet (38), seorang warga yang ikut mengoncek bersama rekannya yang lain.

Sementara Maspon Marpaung (58), yang punya 10 anak dan 14 cucu juga mengaku harus ikut mengoncek untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun sebagian besar anaknya sudah bekerja dan berumah tangga, namun kondisi ekonomi sang anak tidak memungkinkan membantu dirinya terlalu banyak.

“Sejak lima tahun lalu sudah bekerja mengoncek. Karena anak saya pun tamat sekolah SD, mereka pun hidupnya pas-pasan, seperti saya juga. Apalagi suami saya sudah tidak ada, ya beginilah,” sebutnya.

Dari kegiatan ini, dapat dilihat bahwa ratusan kaum ibu di sejumlah desa dan kecamatan di dua daerah ini, dibayar murah untuk jasanya mengoncek. Hal inilah yang membuat Wagub merasa prihatin dan perlu ada kepedulian terhadap upaya yang layak untuk pekerja ini. (Humas Provsu)-(Riva)

loading...

Tuliskan Komentar Anda