Sigale-gale, Patung Kayu yang Bisa Menari

HORASNEWS.COM-Jika ke Samosir tak lengkap rasanya kalau tidak menyaksikan tarian memukau dari Sigale-gale. Patung kayu yang dipahat dengan angun marnortor itu dapat ditemukan di Tomok.

Angin berembus sepoi saat kapal ferry membelah ombak Danau Toba. Dari Pelabuhan Parapat sampai ke Pelabuhan Ajibata hanya memerlukan waktu satu jam penyebrangan dengan membayar Rp10.000,00.

Selama perjalanan kita akan disuguhkan oleh pemandangan Danau Toba yang biru ditambah hijau panorama Pulau Samosir yang semakin disempurnakan oleh cerahnya langit biru tanpa mega.

Di tomok sendiri, ada suatu pertunjukan yang sangat memukau, yaitu pertunjukan tor-tor Sigale-gale. Patung kayu yang dapat menari dengan bantuan benang yang dimainkan seorang dalang. Pertunjukan ini ada di Desa Garoga, Kec. Simanindo, Kabupaten Samosir, kurang lebih seratus  meter dari Pelabuhan Ajibata.

Kisah Patung Sigale-gale

Cerita ini berkisah seorang raja bijaksana yang kehilangan anaknya saat berperang. Kala itu hulubalang (prajurit –red)  huta datang melaporkan bahwa di  hutan perbatasan tengah terjadi kekacauan. Maka raja mengutus anaknya, Raja Manggale menjadi panglima perang.

Namun, pada saat kepulangan para hulubalang, Manggale tidak ada di antara mereka. Raja pun terkejut ketika mendengar kabar bahwa anaknya telah gugur dalam pertempuran. Demi mendengar kabar itu, Raja Rahat pun sedih dan kemudian jatuh sakit. Para menteri dan datu berusaha untuk menolong sang raja yang dicintai rakyatnya itu. Namun sia-sia juga. Sampai pada suatu waktu seorang sibaso (dukun perempuan –red) menerawang dan mengejakan bahwa sang raja menderita penyakit rindu kepada anaknya. Dia pun menyarankan untuk untuk para menteri kerajaan untuk membuatkan sang raja patung yang menyerupai Raja Mangale.

 

pertunjukan Sigale-gale | Admin

Mendapati patung yang indah seolah-olah hidup itu, sang raja pun kembali membaik dan membuat pesta besar. Ia mengundang para pargossi untuk memainkan musik sabangunan ditambah sordam, untuk meminta arwah anaknya untuk masuk ke dalam patung tersebut.

Patung Sigale-gale Sebagai Penghantar Kematian

Pada zaman dahulu, patung sigale-gale digunakan untuk mengiringi pesta kematian bagi orang yang telah gabe –sesuai filosopi orang Batak yang ketiga hagabeon– atau saormatua. Upacara ini merupakan penghormatan kepada orang yang meninggal dan kiranya keturunannya yang selanjutnya juga bernasib yang sama.

Patung ini digunakan sebagai simbol penghantar kematian baik orang yang mempunyai keturunan  (saor matua) untuk menyambungkan keturunan di alam baka kelaknya maupun orang yang tidak memiliki keturunan (mate punu). Bagi orang Batak, meninggal tanpa keturunan adalah sebuah kesalahan. Patung ini digunakan untuk menghindari kutukan (tidak memiliki keturunan) menyebar.

Pembuatan patung sigale-gale tidaklah muda, memerlukan orang yang menjiwai dan dipercayai akan meninggal menjadi tumbal patung tersebut sebagai arwah yang mengisinya. Oleh karena itu, keberadaan patung ini sangatlah sedikit.

Dahulu patung ini diyakini bisa menari sendiri karena daya mistis yang kuat pada zaman itu. Namun seiring masuknya agama Kristen ke daerah Toba ritual ini perlahan bergeser. Upacara Sigale-gale, kini kerap dipertunjukkan sebagai hiburan dan daya tarik bagi wisatawan.

Di samosir hanya ada 4 Sigale-gale yaitu  di Pelabuhan Pariwisata Tomok,  Desa Garoha, simanindo, dan Desa Siallangan.

Sebelum meninggalkan tempat ini jangan lupa berkunjung ke pasar souvenir di jalan menuju Huta Garoga. Di sini menyediakan berbagai souvenir mulai dari gantungan kunci, sortali, pakaian, dan masih banyak lagi. ini bisa kita jadikan sebagai buah tangan untuk teman atau sanak-saudara kita. Jangan khawatir, souvenir di daerah ini harganya terbilang standart kok.(REL)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here