Profil Danau Toba di Sumatra Utara

HORASNEWS.COM-Danau Toba dengan lebar 30 Kilometer dan panjang 100 Kilometer, merupakan salah satu danau terdalam di dunia dengan kedalaman 505 meter. Sama dengan kedalaman Danau Sarez di Tajikistan (505 m),  Danau Matano di Sulawesi Selatan (590 m), dan Danau Crater di Pegunungan Cascade, Amerika Serikat (593 m).

Danau yang terbentuk dari letusan supervolcano (gunung berapi super), diperkirakan terbentuk 73 – 75 ribu tahun silam. Setelah letusan, terbentuk kaldera berisi air dan kemudian dikenal sebagai Danau Toba.

Posisi Danau Toba yang dikelilingi pegunungan, sebelumnya hanya diapit dua kabupaten, yakni Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Simalungun. Setelah pemekaran wilayah, kini Danu Toba diapit tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir.

Berbicara destinasi wisata, pemerintah pusat telah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu dari sepuluh tujuan wisata utama nusantara. Danau ini bisa dicapai dari dua cara. Pertama, dari timur melalui Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai/Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar menuju Prapat).

Cara kedua, dari sebelah barat melalui Kabupaten Deli Serdang, Kaban Jahe, Sidikalang/Dairi menuju Pangururan di Kabupaten Samosir. Dari Bandara Kualanamu, lebih efisien melalui jalan Timur. Waktu tempuh perjalanan, sekitar lima sampai enam.

Jalan terjal berliku, kadang menanjak, lalu menghunjam turun, adalah salah satu ciri khas sebelum tiba di bibir danau. Pemandangan indah di kiri dan kanan jalan, bisa jadi sarana efektif untuk menenangkan hati dan pikiran akibat jalan berliku yang bagi beberapa orang, acap membuat pusing dan stres karena rasa takut. “Ngeri-ngeri sedap, orang bilang….”

Kekhasan wisata alam Danau Toba, selain “terkurung” bukit/pengunungan, dihiasi lembah hijau, ngarai dan sungai yang menambah indah ukiran panoramanya. Di tengah permukaan danau terdapat Pulau Samosir, juga tujuh kabupaten yang mengapit, masing-masing memiliki ragam warna objek wisata nan ramah. Artinya, sebelum menginjakkan kaki persis di tepi Danau Toba, para wisatawan bisa singgah menikmati berbagai objek wisata lain di tujuh kabupaten sekitarnya.

Di Kabupaten Karo contohnya, tujuan wisata Gundaling, Tongging dan Gunung Sebanyak sangat layak untuk disinggahi. Kabupaten Dairi, memiliki objek wisata Air Terjun Pandaroh dan panorama Puncak Sidiangkat.

Di Humbang Hasundutan juga ada Air Terjun Sampuran Pollung dan wisata Sipinsur-nya. Sedangkan objek wisata andalan Simalungun, Danau Toba di wilayah Prapat, Bukit Indah Simarjarunjung, dan Pemandian Aek Manigor.

Sementara Kabupaten Toba Samosir dikenal dengan Long Beach di Ajibata dan Pantai Lumban Silintong, Balige. Kabupaten Tapanuli Utara yang dahulu induk pecahan tiga kabupaten, memiliki destinasi wisata Air Soda dan Pulo Sibundong.

Tak ketinggalan, Kabupaten Samosir pun punya objek wisata Air Panas Belerang (hot spring) di Kecamatan Pangururan, Pucuk Buhit (puncak gunung tertinggi di Kabupaten Samosir), Bukit Holbung (lokasi camping) dan Air Terjun Efrata di Kecamtan Harian Boho.

“Sekali berkunjung, kurang puas, apalagi cuma satu hari,”cerita sejumlah wisatawan. Beda orang berbeda rasa dan sudut pandangnya. Vilia Oktavia Marbun (20) gadis remaja berdarah Batak, kelahiran Kota Medan, saat pertama kali diajak orang tuanya bertamasya ke Toba, mulutnya diam, matanya menatap lekat-lekat pemandangan yang begitu mengagumkan.

Sejak itu, gadis cantik yang masih duduk di bangku kuliah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara ini, ketagihan mengunjungi Danau Toba sekaligus berkunjung ke kampung halaman ayahnya di Kabupaten Humbang Hasundutan. Hampir sebagian destinasi wisata di sekitar Danau Toba, satu per satu didatangi.

Ungkapan rasa ia tuang dalam lirik lagu, “Tao Toba” yang merupakan salah satu judul lagu yang akan dilantunkan Vilia sebagai lagu pengiring saat Festival Danau Toba akhir 2017 nanti. “Semoga lantunan lagu indah itu bisa saya nyanyikan dengan baik di festival nanti,” harap si bungu dari tiga bersaudara.

Lagu itu, kental nuansa asmara muda-mudi, dengan muatan pesan agar rasa cinta terhadap Danau Toba yang begitu indah, harus dilakukan dengan menjaga dan merawatnya. Tak lupa, lagu juga berisi ajakan kepada orang-orang untuk berkunjung ke Danau Toba nan indah permai.

Nama Danau Toba tersebar ke seluruh jagat raya, melekat nilai objek wisata berkelas dunia, namun realita kunjungan wisata masih belum memuaskan. Selama ini Danau Toba seakan dibiarkan begitu saja. Baru setelah 67 tahun Indonesia merdeka, mulai terlihat kepedulian pemerintah mengangkat dan memaksimalkan potensi objek wisata Danau Toba dan sekitarnya.

Satu langkah maju terbukti, Pesta Danau Toba berubah paket menjadi Festival Danau Toba. Pada 2013, istilah Festival Danau Toba pertama kali digunakan saat penyelenggaraan festival di Kabupaten Samosir. Dahulu, Pesta Danau Toba merupakan jenis pesta rakyat-ritual tahunan yang berubah dan berkembang mengikuti peradaban di zamannya.

Menurut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Utara, Drs. Elisa Julianus Marbun, MSi  perubahan kata Pesta menjadi Festival merupakan inisiatif Kementerian Pariwisata RI yang bertujuan meningkatkan kualitas penyelenggaraan event. Ide itu kemudian disambut baik oleh Pemprov Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten/Kota khususnya yang berada di Kawasan Danau Toba.

Festival Danau Toba (FDT) 2017, akan diselenggarakan di Kabupaten Humbang Hasundutan, persisnya di Desa Sipinsur. Namun untuk beberapa jenis perlombaan seperti lomba lari, renang, vocal group, paduan suara, ucok dan butet Geopark Toba, seruling, dragon boat dan renang berlangsung di beberapa lokasi berbeda.

Lanjut Elisa, penentuan tuan rumah festival merupakan hasil kesepakatan antara Kementerian Pariwisata, Pemprov Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten kawasan Danau Toba. Tuan rumah pelaksanaan festival secara bergiliran dari tujuh kabupaten.

Hingga 2016, sudah empat kabupaten menjadi tuan rumah, Samosir, Toba Samosir, Karo dan Tapanuli Utara. Tahun 2017 ini, tuan rumah Humbang Hasundutan, untuk 2018 tuan rumah antara Dairi atau Simalungun.

Topik atau tema festival Danau Toba nanti, masih mengangkat Geopark Kaldera Toba sebagai topik utama. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan berencana menyandingkan topik Geopark dengan Kopi (istilah “kopi ateng” sudah cukup dikenal sebagai kopi khas Humbang Hasundutan.

sumber: http://disbudpar.sumutprov.go.id/berita-15801-terpikat-pesona-danau-toba.html

loading...

Tuliskan Komentar Anda