Lumpuhkan Begal, Santri Ini dapat Ini dari Polisi

HORASNEWS.COM-Keberanian Muhammad Irfan Bahri (19 tahun), seorang santri Pondok Pesantren Darul Ulum Pamekasan Madura melumpuhkan pelaku pembegalan atas diri dan saudaranya di jembatan Summarecon Bekasi, Rabu (30/05) lalu akhirnya berbuah manis.

Irfan mendapat apresiasi dari polisi,  meski sempat berstatus tersangka dan mendekam di penjara Markas Polisi Resor Metro (Mapolrestro) Bekasi Kota, Jawa Barat.

Tim ahli pidana dari kalangan akademisi beranggapan tindakan yang dilakukan Irfan Bahri itu masuk dalam kategori bela paksa. Tim ahli dan Kapolrestro Bekasi Kota akhirnya menggugurkan status tersangkanya.

Tindakan Irfan bahkan dianggap menginspirasi bagi polisi dan masyarakat Kota Bekasi. Saat gelar apel pada Kamis (31/05) pagi, Kapolrestro Bekasi Kota memberi penghargaan atas keberanian Irfan.

Keberhasilan Irfan melumpuhkan pembegal tidak lepas dari keterampilan bela diri yang dimilikinya. Keterampilan itu dipelajarinya di pesantren. Bahkan,  Irfan Bahri kini menjadi salah satu guru beladiri di tempat yang sama.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pd-Pontren) Kementerian Agama (Kemenag) Ahmad Zayadi mengapresiasi keberanian Irfan. Menurutnya, di Indonesia memang ada beberapa pesantren yang di samping mengajarkan para santrinya memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddin), juga membekali para santrinya dengan ilmu beladiri atau yang biasa disebut olah “kanuragan”.

Ilmu kanuragan tersebut didapat santri melalui pendekatan spritual melalui laku tirakat seperti puasa atau pelatihan secara fisik. Hal ini dimaksudkan untuk membekali santri saat mereka terjun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang problematikanya lebih kompleks.

Zayadi menjelaskan bahwa pembekalan ilmu beladiri semacam pencak silat di pesantren merupakan bagian dari tradisi dan budaya pesantren,  yang dididikkan kepada santri untuk membela diri.  Tekniknya sesungguunya menggabungkan antara keyerampilan gerakan, konsentrasi fikiran dan olah intuisi/bathiniyah.

“Inilah salah satu kekhasan dari tradisi pesantren yang jarang ditemui pada lembaga pendidikan lainnya,” tutup Zayadi. (Hery)

loading...

Tuliskan Komentar Anda