Katsaila, Bagian Penting dalam Uma

HORASNEWS.COM-Yudas (18), salah seorang siswa SMAN 1 Siberut Utara sedang serius mengikat seutas daun enau pada sebatang bambu yang panjangnya sekira 3 meter. Jarak mengikat daun enau di batang bambu ini dari satu ikatan dengan ikatan lain sekitar 5 cm serta disusun sedemikian rupa agar terlihat rapi.

Kali ini Yudas bersama siswa SMAN 1 Siberut Utara kelas XI IPA sedang praktik membuat beberapa jenis bentuk katsaila pada punen di Mentawai.

“Kita praktik membuat katsaila yang merupakan bagian penting pada bagian uma (rumah tradisional Mentawai), ” kata Yudas pada Mentawaikita.com, Kamis, 10 Agustus 2017.

Katsaila merupakan salah satu penanda punen (pesta) atau acara dalam sebuah uma. “Biasanya katsaila dibuat pada acara pernikahan, ” katanya.

Doni Oktavia, guru muatan lokal budaya Mentawai mengatakan, bagi masyarakat Mentawai katsaila ada yang dipakai oleh pengantin saat iringan menuju rumah, ada yang ditancap di depan rumah untuk memperlihatkan berapa ekor babi yang disembelih dalam pesta.

“Ini juga memperlihatkan gengsi kepada suku lain karena semakin banyak katsaila ditancap di sepanjang rumah maka itu menandakan banyaknya babi yang mereka potong saat punen, ” katanya.

Dikatakan Doni, memperkenalkan kembali bagian-bagian penting dalam uma serta peraga yang digunakan sangat penting bagi generasi muda agar adat dan budaya tidak hilang karena tidak dimiliki oleh daerah lain.

“Sayangnya untuk kurikulum K13 muatan lokal ini tidak masuk lagi dalam bidang studi yang diajarkan sehingga siswa kelas X tidak lagi mendapat pelajaran ini, ” katanya.

Jorim Siriombuk, Dewan Adat di Desa Monganpoula Kecamatan Siberut Utara mengatakan, pada masa dulu di dalam sebuah uma ada bagian dari lembaga adat yang mengurus punen atau lia.

“Kalau untuk punen yang mengurus itu adalah sibobok katsaila atau sitetek katsaila. Dan mereka ini yang biasanya berpantang atau mukeikei, ” katanya.

Dalam kegiatan pemetaan partisipatif wilayah adat yang dilaksanakan masyarakat untuk memperoleh kembali pengakuan atas wilayah adat yang mereka miliki terungkap bahwa masyarakat Mentawai mempunyai nama uma, pranata adat, lembaga adat dan wilayah adat yang mereka jaga secara turun temurun.

Didalam lembaga ada itu terdapat sikauma (anggota suku), sikerei yang berperan sebagai tabib atau dokter, aturan adat yang dipimpin sipatalaga, sibobok katsaila sebagai penyelenggara punen atau lia serta sikebbukat uma yang merupakan pemimpin dalam sebuah uma.

mentawaikita.com

loading...

Tuliskan Komentar Anda