Heboh Suara Tangisan di Pengadilan Negeri Padang

HORASNEWS.COM-Isak tangis dan rasa haru, mewarnai sidang putusan kasus pengrusakan terumbu karang, di Pengadilan Negeri Padang, Sumatra Barat. Keluarga terdakwa Irawan Gea tidak kuat menahan air mata setelah Ketua Majelis Hakim Pengadilan Padang membebaskannya dari  dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejakasaan Tinggi Sumbar.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Padang, Sumatra Barat membebaskan Irawan Gea dari jeratan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Sumatra Barat di PN Padang, Senin (06/11/2017) sore.

Ketua Majelis Hakim Sotedjo membacakan amar putusan, membebaskan Irawan Gea terdakwa dari dakwaan JPU. Nama baik terdakwa dipulihkan termasuk tahanan kota yang dijalani terdakwa selama ini.

Setelah putusan dibacakan, terdakwa langsung merangkul pengacaranya Amiziduhu Mendrofa dan satu per satu keluarga dipeluknya. Sehingga sontak histeris dan tangisan menggaung di ruangan sidang utama PN ini.

Putusan majelis hakim ini jauh dari tuntutan JPU Bastian menuntut terdakwa tiga tahun penjara. Terdakwa, mantan Direktur Utama PT Suwarnadwipa Wisata Mandiri diduga merusak terumbu karang di kawasan wisata Pulau Suwarnadwipa, Muara Dua, Kecamatan Bungus Teluk Kabung Padang, November 2014.

Tiga hakim dalam kasus ini  masing- masing  Sutedjo, Leba Max Nandoko dan Inna Herlina berbeda pendapat. Inna berbedapendapat dengan dua hakim lain tersebut.

Dia menjatuhi hukuman terhadap terdakwa Irawan Gea dua tahun penjara, kerena terbukti melakukan pengrusakan terumbu karang untuk dijadikan bahan bangunan koteka (penginapan) di pulau tersebut.

Mendrofa kaget hakim Inna karena Irawan Gea adalah anak buah dari Hendri Long, sebagai pengusaha dan pemegang kekuasaan di PT Suwarnadwipa tidak dilibatkan dalam kasus ini. “Irawan Gea adalah anak buah dan yang bertanggungjawab adalah Hendri Long,” ujarnya.

Irawan Gea juga mengakui dikorbankan dalam kasus ini. Dia hanya diperintahkan Hendri Long untuk mengawasi dan mambangun koteka di pulau tersebut. “Kenapa saya dimeja hijaukan, sedangkan Hendri Long tidak. Saya punya bukti-bukti,” katanya.

Sejak kasus ini naik dipenyidikan Dinas Kelautan dan Perikanan, jabatan Direktur Utama PT Suwarnadwipa dipegang Henri Long.

“Saya berkali-kali menyebutkan kepada penyidik kalau pengambilan karang tersebut atas suruhan Hendri Long. Tapi tiba-tiba itu tidak ada dalam BAP,” terang Irawan.

Irawan mengaku tidak pernah menyuruh anggotanya merusak dan menggambil terumbu karang. Suruhan malah datang dari Hendri Long.

Hendri Long adalah orang yang bertanggung jawab dalam kasus perusakan dan pengambilan terumbu karang ini. Saya sudah sebut diproses penyidikan. Tapi, BAP itu saya diarahkan oleh penyidik. Di sana tidak ada nama Hendri Long,” lanjut Irawan Gea.

Kepada Hendri Long, menurut Irawan, dia pernah mengusulkan untuk mengambil batu di bukit yang ada di pulau tersebut sebagai bahan material bangunan. Namun Hendri Long tidak menyetujuinya dan mengatakan pakai terumbu karang ini seninya lebih tinggi.

“Usulan saya ditolak. Hendri Long lebih memilih menggunakan terumbu karang,” lanjut terdakwa. (red)

loading...

Tuliskan Komentar Anda